Oleh : Vinalia
Berbeda pula dengan sosok guru yang memiliki tendensi dasar pengabdian, ia mengajar dengan tujuan yang benar-benar sesuai dengan harapan pendidikan, lebih mengutamakan nilai keberkahan dibandingkan dengan materi, mampu memahami makna sikap keteladanan sosial kemasyarakatan, sehingga dapat menjadikan peserta didik memiliki modal dasar akhlaqul karimah, humanis dan sosialis.
Mengacu pada realita yang ada saat ini, peran suci guru seolah-olah sudah terkontaminasi oleh tendensi matrealistis, nilai kesucian dalam hal pengabdian dalam dunia pendidikan sudah bergeser pada nilai mata uang rupiah, hal ini terbukti dengan sibuknya pertanyaan dan pesatnya keluhan disaat proses pencairan.
Maka dari itu semua, dalam tulisan ini saya sekedar berpesan untuk saya pribadi dan semua kerabat dan sahabat saya yang saat ini berprofesi sebagai guru, hendaknya lebih memahami dan mengerti makna tugas sejati sebagai seorang guru. Senantiasa mampu melakukan proses pengembangan diri, memperkaya khazanah keilmuan dan pengalaman, senantiasa menata dan menjaga etika sikap dan tutur kata, tidak banyak menuntut untuk mendapatkan gaji lebih, mengutamakan keberhasilan peserta didik, dan selalu mendo'akan di setiap ba'da sholat.
Sesuai dengan kalamullah yang dimuat dalam surat Lukman ayat 17
يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Semoga kita semua senantiasa mampu mengambil pelajaran.
Wallahu A'lam.
Vinalia Sang Pelita Hati
0 Komentar