Oleh : Irma Nur Diana
Menarik pada bidang pendidikan, seorang guru dituntut untuk memiliki pola dan strategi yang diharapkan mampu membangun komunikasi baik kepada peserta didik yang menjadi objek pembelajaran dalam mentransfer knowledge dan misi keteladanan. Pola komunikasi tersebut akan terjalin secara alamiah disaat seseorang guru senantiasa menjalin hubungan baik melalui tatap muka di ruang belajar, maupun di luar kelas. Keterjalinan rasa kasih dan sayang antar keduanyapun secara naluriah muncul dengan sendirinya. Maka dari itu, kemampuan berkomunikasi yang baik "diterima oleh nalar peserta didik" merupakan keniscayaan untuk mengantarkan masa depan peserta didik dalam meraih masa depan cerah dan lebih menjanjikan, karena melalui keterbukaan komunikasi akan lebih mempercepat keberhasilan proses pembelajaran.
Berbeda lagi pada sisi penting selain peran komunikasi, yakni menekankan pada pelayanan keteladanan guru kepada seluruh peserta didik. Kemungkinan pada pembahasan ini adalah sesuatu yang paling sulit dan berat bagi seorang guru, karena sejatinya perkembangan peradaban Islam dibangun oleh indahnya keteladanan Rasulillah Muhammad SAW, (uswatun hasanah). لقذ كان لكم في رسول الله اسوة حسنة yang termuat dalam potongan Surat Al Ahzab ayat 21.
Mengacu pada eksistensi makna atau arti dasar guru secara etimologi mangandung makna mendidik. Mendidik tekanan dasarnya pada akhlak, perangai, budi pekerti, tutur kata, tatasikap positif dan lain sebagainya. Hal inilah yang merupakan beban jika tidak ada upaya untuk membiasakannya, bisa karena terbiasa, terbiasa karena dilakukan secara berulang-ulang dan berkala, karena dari dirinyalah ada tuntutan untuk memberikan teladan yang baik bagi anak didiknya, semisal datang lebih awal, meskipun jarak tempuh cukup jauh, membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, bertutur kata yang senantiasa mengandung hikmah dan tarbiyah, serta lain sebagainya, hal ini merupakan adanya suatu kebiasaan postif yang selalu dijadikan bahan evaluasi oleh dirinya dan berbagai pihak yang terkait didalamnya, seperti halnya kepala, dan komite sekolah yang berperan sebagai kontrol dalam proses pendidikan.
Melihat banyak teori serta pandangan para ahli yang kita baca, dapat dijadikan kesimpulan bahwa, budaya pendidikan merupakan garapan dan mega proyek yang dilakukan oleh pemeran pendidikan, dalam hal ini adalah guru, digugu dan ditiru. Hal ini mengingatkan penulis akan kata pepatah bijak yang mengatakan "guru kencing berdiri, murid kencing berlari", secara sederhana pepatah tersebut mengandung makna bahwa peserta didik kita secara alamiah meneladani kebiasaan gurunya.
Wallahu A'lam
Irma Nurdiana
1 Komentar
Keren... Alhamdulillaah..
BalasHapus